Senin, Juni 15, 2026
Home Featured Ketua GODAMS Apresiasi Peran Polri dalam Melindungi Pengemudi Ojol

Ketua GODAMS Apresiasi Peran Polri dalam Melindungi Pengemudi Ojol

by Geralda Talitha
0 comment
Komunitas Ojol Apresiasi Pendekatan Edukatif Polisi di Jalan Raya

Ketika faktor risiko di jalan raya semakin nyata, hubungan erat yang kini terbangun antara pengemudi ojek online (ojol) dan Kepolisian Republik Indonesia tidak terjadi begitu saja, melainkan sebagai respon alami atas tuntutan pekerjaan di lapangan. Ketua Umum GODAMS, Agam Zubir, menyatakan bahwa kedekatan tersebut lahir dari kebutuhan perlindungan serta pelayanan yang saling mengisi.

Hubungan kedua pihak belakangan ini menimbulkan berbagai penilaian dari masyarakat. Ada yang menilai sebagai sinergi positif yang memberikan manfaat, namun tidak sedikit pula yang menyikapinya dengan skeptisisme. Agam menjelaskan bahwa sejak debut ojol di Indonesia pada 2015, mereka telah menjadi bagian penting dalam perkembangan ekonomi digital, meskipun di balik itu semua, para pengemudi ini menghadapi risiko tinggi seperti kecelakaan dan tindak kriminal di jalan.

“Hubungan yang baik antara ojol dan Polri berkembang secara bertahap. Karena kami sering beraktivitas di ruang publik yang sama, yakni jalan raya, kehadiran polisi sangat penting dalam menangani berbagai ancaman seperti kecelakaan dan tindak kejahatan,” ujar Agam.

Selain itu, pengemudi ojol kerap menjadi target penipuan dan perampokan sehingga kerjasama dengan kepolisian diperlukan untuk menindaklanjuti laporan tersebut dan memberikan perlindungan hukum kepada pengemudi dan masyarakat.

Mobilitas tinggi yang dituntut sistem aplikasi juga membuat pengemudi rentan kecelakaan lalu lintas. Dalam insiden semacam ini, polisi lalu lintas biasanya menjadi garda terdepan yang membantu evakuasi korban ke fasilitas kesehatan terdekat.

Agam juga mengapresiasi perubahan pendekatan polisi lalu lintas dalam setahun terakhir, yang kini lebih mengutamakan sosialisasi keselamatan jalan dengan cara humanis, edukatif, dan fokus pada pembinaan dibanding sekadar penegakan aturan secara kaku.

“Kami merasakan langsung pendekatan yang lebih menempatkan dialog dan edukasi sebagai prioritas, agar pengemudi lebih sadar pentingnya keselamatan saat bekerja di jalan,” katanya.

Pengemudi ojol maupun komunitasnya menurut Agam tidak merasa terpaksa bekerja sama dengan polisi. Justru kehadiran aparat dianggap sangat membantu dan mendapatkan apresiasi karena berperan melayani dan melindungi.

Berbagai komunitas ojol secara sukarela membangun komunikasi dan silaturahmi dengan aparat kepolisian. Sebagian pengemudi juga ikut berkontribusi menjaga keamanan lingkungan dengan melaporkan situasi kamtibmas wilayahnya.

“Hubungan ini adalah simbiosis mutualisme; ojol butuh perlindungan dan pelayanan, sementara polisi membutuhkan partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan bersama,” jelas Agam.

Sebagai salah satu penggagas Asosiasi Ojol Nusantara (AON), Agam berharap kemitraan ini terus berkembang sekaligus memberi manfaat luas bagi masyarakat.

AON dibentuk sebagai wadah yang menyatukan komunitas ojol dalam membangun budaya berkendara yang tertib, aman, dan berkeselamatan.

“Keselamatan di jalan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya polisi atau pengemudi. Sinergi yang kuat antara masyarakat dan kepolisian harus terus dijaga agar tercipta lalu lintas yang aman dan tertib,” tutup Agam Zubir.

You may also like

Leave a Comment

About Us

We’re a media company. We promise to tell you what’s new in the parts of modern life that matter. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo. Sed consequat, leo eget bibendum sodales, augue velit.

@2022 – All Right Reserved. Designed and Developed byu00a0PenciDesign